-

Terbit: 7 years ago

TEATER DESA

IMG_20160618_170629

13 Ramadhan kemarin, Pena dari Desa diundang untuk hadir pada acara buka puasa bersama dan pembagian raport adik-adik di madrasah desa Cileles. Seperti biasa, adik-adik ini tak pernah gagal mengundang tawa siapapun yang melihat tingkah polah mereka.

Banyak hal menarik disana dan salah satunya adalah teater desa. Adik-adik kecil berlatih drama untuk mereka tampilkan sore kemarin di depan ibunda mereka, teman mereka dan kami. Awalnya kaget, gimana ceritanya coba ketika mereka memperkenalkan masing-masing peran, ada yang berperan sebagai Putri, Ujang, Udin, dan Ucok . Iya iya bagian itu biasa saja, yang membuat kaget adalah ada peran sebagai Boy dan Reva* juga :/ weleh

Pertunjukkan berlangsung, penasaran juga ceritanya gimana. Dan…jeng jeng jeng. Teater ini berkisah tentang Ujang, yang berangkat ke kota untuk mencari rezeki, karena rezeki telah hilang. Loh? Bukan. Tapi untuk membantu emaknya di kampung. Ujang menjadi pengamen jalanan di kota. Dan saat ia sedang mengais rezeki di jalanan, Ujang tertabrak oleh mobil Boy yang di dalamnya ada Reva dan Putri. Kemudian Ujang di bawa ke Rumah Sakit dengan terseok-seok -.-

Boy, Reva dan Putri merasa bersalah dan memberi Ujang pekerjaan selepas ia sembuh. Karena Ujang adalah orang yang jujur, Ujang dengan mudahnya dipromosikan untuk naik jabatan. Dan seperti cerita sinetron pada umumnya, akhirnya Ujang menikah dengan Putri, salah seorang yang berada di dalam mobil yang dulu menabraknya.

Singkat cerita, Ujang dan Putri berlibur di sebuah desa, yang ternyata adalah desa tempat Ujang lahir dan tumbuh dewasa. Warga desa segera berkabar pada emaknya Ujang. Emak sangat bahagia mendengar kedatangan Ujang dan bergegas menemui anaknya tersebut. Terjadilah dialog antara Emak dan Ujang, kira kira seperti ini:

E: “Ujaaaaaang”
U: “Siapa kamu? Aku tidak kenal.” Jawab Ujang dengan wajah menahan tawa.
E:”Ini Emak,Jang” teriak Emak dengan sedu sedan.
U:”Aku tidak kenal” kata Ujang, masih menahan tawa.

Dan kamu, pasti sudah tau bagaimana cerita ini berakhir. Iya, Ujang menjadi anak durhaka. Ujang dikutuk menjadi batu dan ia menjadi Ujang Kundang.

Terater berakhir.

Selain teaternya yang menarik, yang lebih menarik adalah adik-adik ini akhirnya diminta untuk menjelaskan pesan moral dari drama teater yang sudah mereka tampilkan. Dan pesan yang mereka coba sampaikan adalah bahwa kita tidak boleh durhaka pada orangtua, karena surga ada ditelapak kaki ibu, karena ridho Allah ada pada ridho orangtua dan murka Allah ada pada murka orangtua

Betapa masih polos bukan adik adik ini? :’)

Tapi lebih dari itu, selain pesan moral tersebut yang dapat diambil,banyak hal yang saya dapatkan. Seperti kenyataan bahwa, sinetron-sinetron Indonesia sedikit banyaknya berpengaruh pada pola pikir adik-adik. Nama pemeran teater, scene ditabrak mobil lalu jatuh cinta lalu menikah, akhirnya ada cie cie dari penonton yang juga anak-anak kecil, padahal sungguh pesan utama yang ingin mereka sampaikan begitu luar biasa. Tentang bakti pada kedua orangtua, tentang berharap ridho Allah Tuhan semesta. Tapi harus terdistraksi oleh sinetron yang sangat jauh dari nilai pendidikan, sangat jauh dari nilai pendidikan karakter dan moral. Tumbuh kembang anak-anak ini didampingi oleh sinetron yang justru bisa merusak pola pikir polos mereka.

Lalu, salah siapa?

Bukan, bukan saatnya melempar-lempar batu kesalahan. Tapi yang harus segera kita eksekusi adalah cara untuk meminimalisasi hal-hal mengerikan tersebut. Melalui cara sederhana misalnya, dengan mengajak mereka bermain permainan anak tradisional, mengajak mereka membaca, mengaji, mendongeng, berkreasi dan banyak hal positif lainnya. Tak selesai disitu, peran orangtua sangat penting. Orangtua memiliki hak dan kewajiban penuh untuk menjauhkan anak anak dari hal yang dapat merusak mereka. Juga memilik hak dan kewajiban penuh untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Sekarang, saatnya melakukan perbaikan, bukan melulu menyalahkan keadaan. Mari nyalakan lilin penerangan, daripada melulu mengutuk kegelapan.

*) Bagi yang tidak tau siapa Boy dan Reva, mereka adalah peran dalam sinetron anak jalanan yang tayang di layar kaca setiap harinya. Ngga, saya ga nonton, cuma tau aja -_-

One Comment.
  1. Ranti says:

    Kenalkan anti sama anak anak teteh hehehe ^^

Comments have been disabled.

Some HTML is OK