-

Terbit: 6 years ago

Menanti Dalam Ketaatan

“Berbenah. Berbekal. Bersiap. Memantaskan. Menanti dalam Ketaatan.”

Rinai membaca tulisan pada schedule board Reda.

“Cieeee Re.” Goda Rinai.

“Kenapaaaa cie cie” Reda bingung, lalu memeriksa, rasanya tak ada yang salah dengannya.

“Ini Re. Tulisanmu. Menanti siapa? Udah ada yang menghadap komandan di rumah?” Rinai menggoda lebih lagi.

“Hadeuh. Usia-usia rentan begini nih. Ini tentang yang lebih niscaya daripada bertemu pasangan, Rin.” Reda meluruskan.

Rinai sedang mencerna kalimat Reda. Reda menemukan bingung pada Rinai.

“Kematian. Lebih niscaya dari apa-apa yang sedang dan akan manusia upayakan. Kematian. Lebih niscaya dari tercapainya impian. Lebih niscaya dari bertemu pasangan.” Reda menjeda.

“Re, ga seru banget bahas kematian” Rinai memelan.

“Memang Rin. Dunia ini begitu kemilaunya. Begitu indahnya. Begitu nyaman buainya. Rasanya ingin menetap. Rasanya ingin tinggal. Tapi tak bisa. Semua sudah digariskan. Setiap yang bernyawa, akan sampai pada kematian. Kita ini sedang dalam daftar tunggu kematian. Dan yang namanya daftar tunggu, pasti terus maju. Entah seberapa panjang. Entah seberapa lama. Ia akan datang dan itu adalah kepastian.” Reda selalu memberi jeda.

“Iya Re. Nasihat terbaik adalah kematian, bukan?” Rinai mulai melahap kalimat Reda.

“Betul Re. Alangkah indahnya, menjadi hamba yang senantiasa mempersiapkan kematian. Karena itu berarti, ia sedang mempersiapkan perjumpaan. Perjumpaan dengan Sang Mahakasih, Sang Mahacinta.” Reda seperti belum selesai.

“Re, apa yang harus dilakukan selama bersiap?” Rinai serius.

“Mempersiapkan kematian berarti mencari ilmu sebaik-baiknya.
Mempersiapkan kematian berarti beramal sebaik-baiknya.
Mempersiapkan kematian berarti beribadah sebaik-baiknya.
Mempersiapkan kematian berarti memberi manfaat sebaik-baiknya.
Mempersiapkan kematian berarti taat sebaik-baiknya.
Mempersiapkan kematian berarti selalu berusaha menjadi sebaik-baik manusia.

Jadi, mempersiapkan kematian itu sepaket dengan mempersiapkan cita-cita, bahkan memantaskan diri untuk pasangan. Terliputi semua. Kita tidak pernah tau, yang mana datang duluan. Impian, pasangan atau kematian.
Dunia adalah perjalanan dan kita pasti akan pulang. Tempat pulang terbaik adalah surganya.
Jadikan apapun yang sedang dan akan kita lakukan semata-mata untuk mengharap RidhoNya, dan jangan takut untuk menantikan pertemuan denganNya. Menanti kematian dalam ketaatan.” Reda selesai

“Nasihat terbaik adalah kematian. Sahabat terbaik adalah yang memberi nasihat tentang kematian” Rinai tulus tersenyum. Tak pernah tak manis.

“Sahabat terbaik adalah yang setia mendengarkan. Yang setia meluruskan. Setia menjadi sahabat perjalanan, menuju perbaikan” Reda tak kalah tulusnya.

“Berbenah berbekal bersiap?” Kata Rinai.

“Memantaskan. Menanti kematian dalam ketaatan” Reda menjadi pelengkap.

Some HTML is OK