-

Terbit: 6 years ago

Daun Jatuh

Sore mulai redup. Warna jingga dan ungu berpadu di kaki langit barat. Rinai duduk di bawah pohon yang sedang gugur daunnya. Reda tepat di sampingnya, sibuk menulis, entah apa.

“Re, daun yang jatuh itu, atas kehendak Allah kan ya?” Rinai, menatap lamat setiap daun yang jatuh.

Reda menutup buku, ikut mengamati. “Iya Rin. Bahkan di tanah mana ia jatuh, itu atas kehendak Allah juga.”

“Di surat apa Re?” Rinai lupa.

Reda mengernyitkan dahi, seraya mengingat “Al-An’am 59 Rin.”

“Ah iya. Harusnya, banyak ya hal yang bisa membuat iman kian berlipat!” Rinai menatap sekeliling. Air langit menyapa bumi.

“Iya, Rin. *Bahkan ukuran hujan, mengapa berupa tetesan, mengapa tak sekaligus tumpah ke bumi, kapan rinai hujan turun, kapan ia reda, di bumi mana ia jatuh, itu semua Allah pula yang menetapkan. Tertulis di Al-Quran, 14 abad yang lalu. Subhanallah wa bihamdih” Reda membuka telapak tangan, membiarkannya disentuh tampias hujan.

“Subhanallah wa bihamdih. Aku ingat Rin, katanya jika manusia telah merasakan manisnya iman, telah berada pada titian cinta yang tinggi pada Allah, maka semua hal di muka bumi akan menjadi menakjubkan. Tak biasa saja. Ketika melihat gunung, ia ingat dengan firman Allah bahwa gunung dijadikan sebagai pasak yang akan menjaga bumi dari goncangan**” Rinai menjeda.

“Ketika melihat langit, ia akan ingat firman Allah, bahwa Allah lah yang meninggikan langit tanpa tiang, yang menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar berdasar waktu yang telah ditentukan***. Dengan begitu, kemana pun mata sang hamba tertuju, ia tafakkur. Maka iman akan kian berlipat, taqwa akan kian pekat, dan cinta akan kian kuat. Tapi, manusia memang sering lalai” sambung Reda.

Rinai dan Reda tak beranjak. Keduanya menyelami lautan rahmat. Semakin cinta pada yang membuat angin bergerak dan awan-awan berarak****.
Belum ada tanda hujan segera reda.

 

*43:11, 23:18, 7:57💧
** 78:7, 16:15🗻
*** 13:2 🌅
**** 2:164, 7:57, 30:48, 32:27 🌧🌫
dan banyak lagi :’)

 

Saran Penyajian: baca “daun jatuh” sambil dengerin Maher Zain: Open Your Eyes

Some HTML is OK