-

Terbit: 5 years ago

Berjalan

Sore ini, Rinai menemani Reda ke suatu tujuan. Diantara sinar senja yang melewati celah pepohonan, mereka berjalan.

“Re, kenapa harus jalan kaki sih? Kan bisa naik kendaraan. Jadi, cepat sampai.” Tanya Rinai.

“Sedang ingin belajar, Rin. Kamu percaya bahwa setiap perjalanan adalah pelajaran?” Tanya Reda sekarang.

“Hmm iya percaya. Lalu?” Rinai belum paham.

“Naik kendaraan atau berjalan, keduanya adalah ikhtiar, adalah belajar. Berkendara mengajari kita bahwa dengannya kita akan cepat sampai. Tak banyak waktu yang dibutuhkan.

Dan berjalan mengajari kita bahwa menuju tujuan kadang tak mudah. Pada setiap tapak jalan ada nafas harapan tuk lekas sampai. Ada doa terpanjatkan agar selamat sampai tujuan. Pada setiap peluh ada nilai perjuangan. Pada sabar, ada kasih sayang Tuhan.

Kadang kita perlu tersesat, kadang kita perlu bertanya, kadang kita perlu rehat sejenak, kadang‚Äč kita perlu berbalik arah, kadang kita hanya perlu tetap berjalan saja. Dan berdoa: Allah, tunjukan kami jalan yang lurus. Kemudian percaya, bahwa kita pasti akan sampai. Asal jalan kita, langkah kita, ikhlas kita, ridha kita memang menuju kesana. Berapa lama pun waktu yang akan kita lalui, betapa pun jauh jarak yang akan kita tempuh, ada bahagia di ujung sana, saat sampai tujuan.” Reda menjawab pertanyaan Rinai sambil tetap berjalan, amat jelas dan menyenangkan.

Rinai menyimak, hari ini ia banyak belajar.
“Re! Kita sampai!” Rinai, setengah berteriak.

“Alhamdulillah”. Senyum Reda. Teduh sekali.

“Alhamdulillah”. Senyum Rinai. Manis sekali.

Some HTML is OK